“Langkah Kecil dengan Bekal Besar Bernama Doa”


Aku tumbuh dari rumah yang tak pernah kaya harta, tetapi selalu kaya doa. Ayahku pulang dengan tangan berdebu, membawa lelah dari bangunan ke bangunan. Ibuku menunggu di rumah, menggenggam sabar dan ikhlas, menyebut namaku dalam setiap sujudnya kepada Allah. Dari merekalah aku belajar bahwa hidup tidak selalu memberi kemewahan, tetapi selalu memberi makna bagi mereka yang sabar dan berserah.

Ketika aku ditetapkan sebagai penerima Beasiswa Bidikmisi, aku mengerti bahwa itu bukan sekadar bantuan biaya pendidikan. Ia adalah cara Allah menguatkan langkahku, mengangkat mimpi seorang anak buruh bangunan agar tetap bernapas. Aku kuliah dengan membawa amanah, dan setiap huruf yang kupelajari adalah ikhtiar untuk membalas peluh ayah dan air mata ibu.

Pernah suatu waktu aku berangkat KKN hanya bermodalkan empat ratus ribu rupiah. Jumlah yang bahkan tak cukup untuk merasa tenang, tetapi cukup untuk melatih tawakal. Di tas kecilku, aku menyimpan pakaian seadanya dan doa ibu yang tak pernah putus memohon kecukupan kepada Allah. Di tempat pengabdian itu aku belajar, bahwa kekurangan materi bukan tanda ditinggalkan, melainkan ruang bagi Allah menunjukkan pertolongan-Nya.

Hari-hari kuliah kulewati dengan kesederhanaan. Ada lapar yang harus kupeluk dalam diam, ada lelah yang kutahan sambil berdoa. Namun Bidikmisi mengajariku satu hal penting: bahwa Allah Maha Mengetahui siapa yang layak dikuatkan di tengah keterbatasan. Tugasku hanya menjaga niat dan tidak berpaling dari jalan yang telah dititipkan.

Lalu datang tahun 2023, tahun yang kelak selalu kusebut dalam sujud syukur. Kabar Beasiswa BAZNAS itu hadir sebagai jawaban doa-doa panjang. Dadaku penuh haru, sebab aku tahu, itu bukan kebetulan, melainkan rezeki yang Allah turunkan tepat pada waktunya. Beasiswa BAZNAS menjadi penegasan bahwa ikhtiar yang disertai sabar tidak pernah sia-sia.

Di titik itu aku memahami: hidupku adalah rangkaian kasih sayang Allah yang hadir melalui banyak cara. Dari Bidikmisi yang menjagaku tetap belajar, dari KKN yang kutempuh dengan empat ratus ribu rupiah, hingga BAZNAS yang menguatkanku menatap masa depan. Aku hanyalah hamba yang belajar bersyukur, namun Allah menuliskan jalanku dengan kemurahan-Nya.

Jika hari ini aku masih berdiri, itu karena doa orang tua yang menembus langit dan pertolongan Allah yang tak pernah terlambat. Dan kelak, jika aku diberi kesempatan menjadi manfaat, aku ingin menjadi jawaban doa bagi orang lain, sebagaimana aku pernah menjadi doa yang dikabulkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lebih dari Sekadar Memimpin: NURDIN ABDULLAH Menjadi Kompas Perubahan

✨ “Setiap Langkah Adalah Sepucuk Surat yang Terbaca oleh Tuhan”

Antologi Dongeng dari Tangan Kreatif Siswa Kelas 7 MTs Al Hasan Bonto Manai