“Pada Sujud yang Paling Sunyi, Allah Menumbuhkan Dua Garis Harapan”
Di antara jutaan doa yang terbang menuju langit, ada satu doa yang paling lama saya peluk dalam diam: tentang hadirnya seorang anak. Tentang dua garis kecil yang bagi sebagian orang mungkin sederhana, namun bagi saya adalah semesta harapan yang berkali-kali saya jahit dengan air mata. Hari-hari berlalu seperti biasa di mata dunia, tetapi tidak di hati saya. Ada luka yang tak pernah benar-benar mampu dijelaskan. Setiap kali mendengar kabar orang lain hamil, saya ikut bahagia… namun diam-diam hati saya runtuh perlahan. Saya belajar tersenyum di tengah pertanyaan manusia yang kadang lebih tajam daripada pisau. “Kapan punya anak?” “Belum hamil juga?” Kalimat-kalimat itu terdengar ringan bagi mereka, tetapi jatuh seperti batu di dada saya. Malam menjadi saksi paling setia. Di sepertiga malam, saya sering duduk lama di atas sajadah, menangis tanpa suara. Saya meminta kepada Allah sesuatu yang bahkan tidak pernah saya sangka akan terasa begitu sulit untuk diraih. Saya belajar bahwa menu...