Selembar Hati Perempuan

 


Ada jiwa yang selalu merindu untuk menjadi teduh—jiwa seorang perempuan yang ingin hadir sebagai penyejuk, bukan sekadar bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi hati yang singgah di sekelilingnya. Ia ingin menjadi tenang, meski badai terus berulang. Ia ingin menjadi kuat, meski rapuh kadang mengetuk dari dalam dirinya.

Ia mengerti, dendam, iri, dan dengki hanyalah duri yang tumbuh dari tanah gersang bernama hati. Maka ia belajar menjadi pemaaf, sebab dengan memaafkan, ia bukan hanya melepaskan orang lain, tetapi juga membebaskan dirinya dari belenggu yang menyesakkan. Luka memang tak pernah hilang begitu saja, tetapi ia memilih untuk merawatnya dengan kesabaran, hingga sembuh perlahan di bawah cahaya kasih Tuhan. Dan ketika amarah datang mengusik, ia memilih menunduk, beristighfar, membiarkan gelombang reda di lautan jiwanya.

Ia tahu, hidup tak selalu ramah. Ada hari-hari yang getir, ada keadaan yang tak kunjung bersahabat. Namun ia tidak ingin menyalahkan siapa pun, sebab hatinya yakin: setiap peristiwa hanyalah bagian dari skenario besar yang ditulis Allah dengan penuh cinta. Ia percaya, di balik semua tabir kesulitan, ada kebahagiaan yang tengah dipersiapkan, mungkin belum tampak, tetapi pasti ada.

Ia tak ingin hatinya karam dalam putus asa. Ia tak ingin keberadaannya menjadi beban. Ia hanya ingin tetap berjalan, dengan hati yang lapang menerima apa pun yang datang. Ia ingin rezekinya mengalir seperti air zam-zam—jernih, suci, tak pernah kering, dan selalu memberi kehidupan. Bukan semata untuk dirinya, tetapi agar kasihnya bisa tercurah kepada sesama makhluk-Nya.

Menjadi perempuan yang teduh adalah perjalanan panjang. Ada tangis yang tak terdengar, ada luka yang tak terlihat. Namun di balik itu semua, ia percaya: setiap sabar adalah sayap, setiap istighfar adalah cahaya, dan setiap ikhlas adalah jalan pulang menuju ridha-Nya.

Dan begitulah ia belajar—menjadi perempuan yang teduh, bukan karena hidup mudah, melainkan karena hatinya senantiasa berlabuh pada Sang Pemilik Kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lebih dari Sekadar Memimpin: NURDIN ABDULLAH Menjadi Kompas Perubahan

✨ “Setiap Langkah Adalah Sepucuk Surat yang Terbaca oleh Tuhan”

Antologi Dongeng dari Tangan Kreatif Siswa Kelas 7 MTs Al Hasan Bonto Manai