NADA YANG MENYUSURI WAKTU

 


Ada suara-suara yang tidak lahir untuk disukai banyak orang. Ia tak berpakaian indah, tak dilatih untuk memikat, tak pula disusun demi tepuk tangan. Suara semacam ini kerap terdengar asing, kadang ganjil, bahkan dianggap sumbang oleh dunia yang terbiasa dengan harmoni palsu. Namun di balik ketidaksesuaiannya, tersembunyi sebuah kejujuran yang nyaris suci—kejujuran yang tidak berkompromi, yang tidak tunduk pada selera umum.

Ia bukan gema yang gegap gempita, melainkan bisik yang jernih. Ia tidak berteriak agar didengar, melainkan berjalan pelan, meniti ruang-ruang hening, menembus dinding waktu dan prasangka. Dunia mungkin menolak mendengarnya, tapi suara itu tidak pernah putus asa. Ia terus melangkah, dengan kesabaran yang nyaris abadi, membawa seluruh luka, harap, dan kebenaran yang ia punya.

Sebab suara yang jujur, betapapun tak lazim nadanya, selalu memiliki tujuan. Ia diciptakan bukan untuk semua telinga, melainkan untuk sepasang yang istimewa—telinga yang telah ditempa oleh sunyi, yang telah belajar mendengar bukan hanya dengan indera, tapi dengan hati yang lapang dan jiwa yang terbuka. Dan ketika suara itu akhirnya tiba, ia tidak perlu menjelaskan dirinya. Ia dikenali, dipahami, dan diterima, seolah-olah dunia memang sengaja menunggu pertemuan itu terjadi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lebih dari Sekadar Memimpin: NURDIN ABDULLAH Menjadi Kompas Perubahan

✨ “Setiap Langkah Adalah Sepucuk Surat yang Terbaca oleh Tuhan”

Antologi Dongeng dari Tangan Kreatif Siswa Kelas 7 MTs Al Hasan Bonto Manai