KALA SENYAP LEBIH RIUH DARI ISAK
Ada tubuh yang tergeletak diam di pelataran semesta, di mana angin tak lagi berbisik mesra, dan langit tak sudi menurunkan hujan pengampunan. Di sana, jiwamu rebah—bukan karena lemah semata, tetapi karena terlalu lama menanggung badai getir yang tak kunjung reda, terpukul berulang oleh musim yang enggan beralih. Semesta limbung, goyah oleh derak takdir yang tak kau pinta, dan engkau, dalam diam yang nyaring, hanya bisa menutup mata sambil menahan nyeri yang tak punya nama.
Namun bahkan dalam kejatuhan yang sunyi itu, napasmu masih berhembus—pelan, nyaris tak terdengar—seperti embun yang menggigil di atas bara pagi. Ia tak menjerit, tak memekik, tapi ia ada. Ia bertahan. Dan keberadaannya, sekecil apapun, adalah bentuk paling murni dari keberanian. Dalam letih yang mendalam, engkau tetap menghirup dunia, walau hanya secuil, walau hanya serpihan.

Komentar