Dari Peluh Ayah, Dari Doa Ibu, Menuju Mimpi
Segala puji melangit ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Zat yang Maha Pemurah, yang telah menghadiahkan waktu dan kekuatan untuk menuliskan jejak-jejak perjalanan dalam merangkai mimpi menjadi nyata.
Teruntuk kedua insan mulia yang dipanggil ayah dan ibu, terima kasih terlukis dari relung terdalam. Doa-doa mereka yang tak pernah henti mengalun di setiap malam, serta ridha yang mengiringi setiap langkah, menjadi pelita yang menuntun hingga tiba di gerbang pencapaian ini.
Perkenankan saya memperkenalkan diri. Nama saya Elya Nurul Maulana, anak ketiga dari sepasang insan mulia yang senantiasa mengalirkan doa dalam keikhlasan dan keteguhan hati. Saya berasal dari Kota Bantaeng, Sulawesi Selatan, tepatnya di Jalan Merpati—tempat di mana kisah hidup saya mulai tertulis.
Saat ini, atas izin dan ridha Sang Maha Kuasa, saya Alumni di salah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Bulukumba, Universitas Muhammadiyah Bulukumba. Ibu saya seorang ibu rumah tangga yang penuh kasih, sementara ayah saya bekerja dengan sepenuh hati sebagai kulih bangunan—pekerjaan yang penuh peluh namun sarat kehormatan.
Inilah kisah saya, seuntai perjalanan penuh harap dan perjuangan, hingga saya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi melalui bantuan beasiswa Bidikmisi—sebuah anugerah yang menjadi cahaya bagi mimpi-mimpi di tengah keterbatasan.
Beberapa tahun silam, saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu, terucaplah sebuah harapan tulus dari hati: “Bu, saya ingin kuliah.” Namun, jawaban ibu saat itu membuat dada saya sesak—dengan lirih dan berat hati, beliau menolak. Alasannya sederhana namun menyayat: ayah hanya seorang buruh bangunan nak, dan penghasilannya pun hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan harian keluarga tapi bukan berarti ibu melarang kamu untuk melanjutkan pendidikan.
Sejak saat itulah, bayang-bayang keputusasaan mulai menghantui langkah saya. Rasanya mimpi itu terlalu tinggi untuk digapai. Namun, di sisi lain, tekad saya untuk menggapai cita dan mempersembahkan toga kebanggaan kepada kedua orang tua justru tumbuh semakin kuat. Maka, usai dinyatakan lulus dari bangku SMA, saya memberanikan diri mendaftar jalur SNMPTN. Sayangnya, takdir belum berpihak—saya tak lolos seleksi pada perguruan tinggi negeri yang saya dambakan.
Kala itu, saya belum mengenal apa itu Bidikmisi. Namun semangat tak pernah padam dalam dada. Lalu, suatu hari, kabar bahagia datang dari pihak sekolah. Seorang pengurus kemahasiswaan mengabarkan bahwa saya termasuk salah satu dari segelintir siswa—kurang lebih hanya sepuluh orang—yang mendapatkan kuota pendaftaran beasiswa Bidikmisi. Saya diberi nomor pendaftaran dan kode akses, meskipun awalnya sempat ragu untuk melanjutkan pengisian biodata. Ketika rasa ingin menyerah menghantui, saya selalu teringat wajah ayah dan ibu, dan dari sanalah kekuatan saya kembali tumbuh.
Semua proses pendaftaran saya jalani sendiri, tanpa melibatkan orang tua. Saya tak ingin membebani mereka lebih jauh. Saya meminjam sepeda milik tetangga untuk bolak-balik mengurus berkas ke kantor kelurahan dan sekolah. Setelah semua berkas terkumpul, saya pun mendaftar di Universitas Muhammadiyah Bulukumba melalui jalur mandiri. Meski dihantui keraguan, saya tetap melangkah—meski uang pendaftaran sebesar Rp150.000 terasa berat.
Saat itulah hati saya kembali terenyuh. Ayah dengan penuh keikhlasan meminjam uang kepada atasannya demi saya bisa mendaftar. Di balik kesulitan itu, doa dan dukungan dari kedua orang tua tidak pernah surut. Bersama kakak, saya pergi ke bank untuk membayar uang pendaftaran, lalu lanjut mengurus berkas-berkas sebagai calon mahasiswa baru.
Alhamdulillah, setelah melalui rangkaian seleksi, saya dinyatakan lulus. Namun perjuangan belum usai. Saya terus mengurus berkas Bidikmisi—satu-satunya harapan agar saya bisa melanjutkan pendidikan tanpa memikirkan beban biaya. Semua kelengkapan saya serahkan kepada pengurus beasiswa, dan dalam sujud, doa saya tak pernah saya lupa memohon agar Allah membukakan jalan.
Dan akhirnya, kabar gembira itu datang juga. Saya dinyatakan sebagai penerima beasiswa Bidikmisi jenjang S1. Perjalanan ini penuh warna—suka, duka, dan haru bercampur menjadi satu. Saya masih ingat jelas, saat kedua orang tua saya meneteskan air mata bahagia. Tangisan itu menjadi api semangat saya untuk terus belajar, agar kelak, toga yang mereka impikan benar-benar dapat saya persembahkan sebagai wujud bakti dan cinta yang tak terhingga.
Jika takdir adalah jalan yang telah ditulis oleh Sang Maha Kuasa, maka selalu akan ada celah cahaya, sekecil apa pun itu, untuk kembali melangkah menuju ketetapan-Nya.
Dulu, saat saya mengutarakan niat untuk kuliah, tak semua orang menyambutnya dengan dukungan. Salah satu tetangga bahkan meremehkan impian saya. Mereka mencibir, “Uang bukan daun yang bisa dipetik. Mana mungkin anak dari kulih bangunan bisa kuliah? Untuk makan pun susah.” Kata-kata itu pedih, seperti luka yang tak terlihat, namun perihnya nyata.
Tapi justru dari luka-luka itu, saya menemukan kekuatan. Saya melihat wajah ayah—lelaki yang setiap hari pulang dengan tubuh basah oleh peluh, tapi masih sempat mengukir senyum untuk keluarganya. Saya melihat wajah ibu—perempuan yang tak pernah letih berdoa di sepertiga malam, meski matanya sering sembab oleh tangis yang disembunyikan. Mereka tidak punya harta untuk diwariskan, tetapi cinta dan doa mereka adalah kekayaan yang tak terhingga.
Saya tahu betul bagaimana keduanya menahan lapar agar anaknya bisa tetap sekolah. Saya masih ingat bagaimana ayah meminjam uang dari atasannya hanya demi biaya pendaftaran saya. Tak ada keluhan dari bibirnya, hanya tatapan teduh yang menyimpan harap. Ibu pun tak pernah mengeluh, meski setiap hari berjuang dalam sunyi, memastikan saya tetap bisa belajar tanpa harus tahu betapa sempitnya dapur kami.
Maka, ketika kabar bahwa saya menjadi penerima beasiswa Bidikmisi datang, saya tahu ini bukan sekadar keberhasilan saya. Ini adalah jawaban dari setiap sujud ibu, dari setiap keringat ayah, dan dari setiap air mata yang tak pernah mereka perlihatkan kepada saya.
Terima kasih saya haturkan kepada seluruh pihak yang menghadirkan beasiswa Bidikmisi dalam hidup saya, terutama seluruh para tenaga pendidik dan kependidikan yang ada di kampus tercinta Universitas Muhammadiyah Bulukumba. Tanpa bantuan ini, mungkin dunia perkuliahan hanya akan menjadi mimpi yang terlalu mewah untuk saya genggam.
Kini, saya berjalan di atas jalan yang dulu hanya bisa saya bayangkan, dan di tiap langkahnya, saya membawa harapan besar: dan Alhamdulillah pada tahun 2023 saya berhasil lulus tepat waktu dan memakai toga itu di hadapan kedua orang tua saya, sebagai tanda bahwa perjuangan mereka tak pernah sia-sia untuk Memperjuangkan saya menuntut ilmu.
Salam Hangat dari saya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Komentar